BEKERJA DAN BERBAKTI UNTUK KEMAJUAN KTI

Memaknai Semangat Hari Sumpah Pemuda

Kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman baik yang saya temui saat berproses dengan masyarakat. Semua ini berkat KIAT Guru yang memberi saya kesempatan yang saya rasa tidak semua orang dapat merasakannya. Saya merasa perlu membagikannya ke semua orang.

Saya ingin menceritakan pengalaman dari Desa Silat, Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang. Beberapa hari lalu di tempat ini  saya dikritik, dan hampir memudarkan semangat saya. Namun dari desa ini saya ingin menceritakan pengalaman suka cita, karena saya rasa di tempat yang sama satu kritikan pedas dapat berbuah dua kebahagian istimewa di satu momen yang sungguh luar biasa.

                                                                             

Pagi tanggal 28 Oktober bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, di awal hari saya disuguhi pemandangan yang unik. Ada Upacara dengan pemandangan yang menarik. Seluruh siswa peserta upacara menggunakan pakaian pramuka, dan guru-guru mengenakan pakaian putih hitam. Kontras dengan birunya langit, dan hijaunya dedaunan di sekitar lapangan upacara.

Dari kejauhan saya menikmati pemandangan ini. Di tempat saya berdiri terdengar suara nyaring dari seorang Guru yang jarang tampil dan bicara di depan umum. Tapi kali ini Guru itu bertindak sebagai Pembina Upacara. Satu pesannya yang terngiang adalah bahwa sebentar lagi dia akan pensiun. Guru itu bernama Pak Ageni.  “Anak-anak…Ingat! Utamakan pendidikan dan sekolah kalian agar kelak bisa menjadi orang cerdas dan dapat menggapai cita-cita kalian. Semua orang bisa berhasil kalau dia mau belajar dan rajin sekolah", pesannya.

Mungkin pesan ini biasa saja, wajar disampaikan oleh seorang Guru, tapi bagi saya yang  mendengarnya secara langsung diselimuti rasa sedih dan haru. Seakan diingatkan kembali pada tujuan awal bergabung dengan KIAT Guru yaitu untuk memperjuangkan pendidikan anak-anak di desa terpencil yang juga berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas.  Sekali lagi kata itu seakan kembali memulihkan semangat saya untuk berjuang bagi  anak-anak yang ada di desa terpencil yang juga berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas.

                                                                               

Kini berlanjut ke cerita bahagia berikutnya.  Siang hari setelah upacara dan kegiatan anak-anak memperingati hari sumpah pemuda, saya yang sibuk mempersiapkan pertemuan bulanan merasa senang. Pasalnya semua elemen yang diundang hadir, walau tidak semua perwakilan orang tua dan anggota KPL bisa hadir.  Pada pertemuan tersebut, beberapa peserta menyampaikan sejumlah pesan indah yang membuat hari saya teramat bahagia. Dimulai dari kata-kata Pak Kades, "Kita harus ingat KIAT Guru hadir untuk mengingatkan kita saling bekerja sama memperbaiki dan meningkatkan pendidikan yang ada di desa kita. Jadi tentunya kita harus bekerja sama, berat sama di pikul ringan sama dijinjing."

Selepas itu dilanjutkan dengan anggota KPL yang juga berbicara, "Kita harus semangat dan jangan berkecil hati, tapi harus bangga karena desa kita pun dari pendidikan yang terbatas sudah berhasil menciptakan Sarjana, mari kita tulis lagi setiap janji layanan kita dengan tinta hati.”  Suasana pertemuan mulai mencair, dan semua pihak mulai saling terbuka walaupun terasa menyakitkan saat dikritik namun saya berharap semua keterbukaan ini bisa membawa dampak yang baik bukan saja untuk saat ini namun untuk di waktu yang akan datang, karena semua yang sedang kita lakukan tentang memperjuangkan hak  anak-anak untuk mendapat pendidikan yang berkualitas.

Di hari Sumpah pemuda ini saya mendapat pembelajaran tentang makna sebuah pengabdian. Pengabdian yang tak lepas dari berbagai tantangan. Tantangan yang bukan menjadi batu sandungan tapi merupakan batu loncatan untuk melompat lebih tinggi.  Buktinya hari ini, kritikan bisa membuat semua lebih terbuka dan bekerja sama.

Semoga hari sumpah pemuda bisa menyadarkan kita semua bahwa di manapun berada, selama itu masih di tanah Indonesia, mari kita bekerja sama untuk melangkah maju. Kita adalah indonesia yang berbangsa satu, bertanah air satu, tanah air Indonesia.  

Semoga cerita ini bisa membuat yang membaca terinspirasi, dan juga mau berbagi cerita dengan menularkan semangat kebahagiaan. Bahagia itu memang sederhana, iya kan teman-teman?

 

~CK. Julinda Haba Lena~

AttachmentSize
Julinda-2.jpg187.02 KB
Topik: 
field_vote: 
No votes yet