BEKERJA DAN BERBAKTI UNTUK KEMAJUAN KTI

Isu Politis dan Ekologis Menghambat Pencapaian SDGs Air Bersih dan Sanitasi

Perkembangan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals nomor 6 tentang air bersih dan sanitasi tidak sesuai dengan target pada tahun 2030. Oleh sebab itu, penyelenggaraan Forum Air Sedunia ke-10 di Indonesia diharapkan dapat menghasilkan solusi konkret terhadap masalah itu.

Forum Air Sedunia atau World Water Forum diadakan pertama kali di Maroko pada 1997. Dalam penyelenggaraannya, Dewan Air Sedunia (World Water Council) bekerja sama dengan negara yang ditunjuk sebagai tuan rumah. Forum kali ini diadakan di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, sepanjang 18-25 Mei 2024.
 
Menurut Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri Tri Tharyat, Forum Air Sedunia ke-10 penting karena isu sanitasi dan air bersih menunjukkan perkembangan yang serius. ”SDGs (Sustainable Development Goals) ke-6 yang terkait jaminan ketersediaan serta pelaksanaan air dan sanitasi bagi seluruh masyarakat secara berkelanjutan tidak on track. Saya ulangi, tidak on track,” ujarnya saat konferensi pers yang berlangsung di Nusa Dua, Minggu (19/5/2024).

Tersendatnya perkembangan capaian SDGs ke-6 itu mengemuka dalam dokumen berjudul ”The United Nations World Water Development Report 2024: Water for proseperity and peace”. Dokumen itu menyatakan, target-target SDGs ke-6 tampak tidak sesuai jalur atau on track. Per 2022, sebanyak 2,2 miliar warga dunia tidak mendapatkan akses air minum yang aman. Sebanyak 4 dari 5 penduduk di daerah terpencil secara global kekurangan layanan dasar air minum. Jumlah penduduk dunia yang kekurangan akses pada layanan sanitasi mencapai 3,5 miliar.

Pencapaian target-target SDGs menjadi nadi Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan yang diadopsi negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 2015. Laman resmi UN-Water SDG 6 Data Portal menunjukkan, proporsi penduduk dunia yang menggunakan layanan sanitasi yang aman mencapai 57 persen. Tingkat penerapan pengelolaan sumber daya air terintegrasi di skala global sebesar 54 persen. Cakupan limbah air domestik dunia yang diolah secara aman mencapai 58 persen.

Secara umum, Tri menyatakan, pencapaian SDGs negara-negara berkembang dengan tenggat tahun 2030 sekitar 12 persen pada 2023. ”Ini tantangan bersama. Namun, Indonesia termasuk negara yang cukup maju dalam pencapaian SDGs. Pada 2023, Indonesia mencapai lebih dari angka 66 persen,” ujarnya.

Oleh sebab itu, Forum Air Sedunia di Indonesia diharapkan dapat membahas isu penting tersebut melalui sejumlah pertemuan strategis. Tri menggarisbawahi, Forum Air Sedunia ke-10 menggelar Pertemuan Tingkat Tinggi (High Level Meeting) untuk pertama kali yang terkonfirmasi akan dihadiri perwakilan dari 48 negara dan organisasi internasional.

Selain itu, untuk pertama kalinya, Forum Air Sedunia akan menghasilkan deklarasi tingkat menteri dalam bentuk konsultasi. Deklarasi tingkat menteri ini dikonsultasikan selama 3 kali, termasuk diskusi awal yang diadakan di markas besar UNESCO di Paris, Perancis, yang dihadiri oleh lebih dari 100 negara. ”Sebanyak 100 negara ini memiliki berbagai kepentingan. Sulit sekali mencapai kesepakatan karena ada isu politis dan ekologis. Namun, dengan kemampuan diplomasi Indonesia, kita bisa memperoleh kesepakatan dalam deklarasi menteri yang akan disahkan secara resmi pada 21 Mei mendatang,” tutur Tri.

Empat pokok
Dalam Forum Air Sedunia ke-10, Tri menyebutkan, terdapat empat pokok yang ditargetkan Indonesia sebagai tuan rumah. Pertama, kesepakatan internasional untuk menetapkan Hari Danau Sedunia karena perhatian terhadap pengelolaan danau relatif sedikit. Kedua, kesepakatan membentuk center of excellence terkait isu sumber daya air beserta perubahan iklim.

Pokok ketiga mengenai pengelolaan sumber daya air secara terintegrasi, khususnya di pulau-pulau kecil. Keempat, kesepakatan terhadap lebih dari 100 proyek di bidang air untuk dieksekusi di Indonesia. Proyek-proyek ini sudah dikurasi oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, serta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebutkan, terdapat 120 proyek strategis terkait air bersih dan sanitasi. ”Nilai proyek-proyek ini sekitar 9,4 miliar dollar AS. Proyek-proyek tersebut salah satunya menindaklanjuti inisiatif Indonesia dalam pertemuan G20 pada 2022 terkait G20 Bali Global Blended Finance Alliance yang akan mendukung pendanaan aksi iklim, termasuk menghadapi krisis air,” ujarnya melalui siaran pers yang diterbitkan, Jumat (17/5/2024).

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mencontohkan, salah satu proyek berupa instalasi pengolahan air untuk penjernihan di Ibu Kota Negara Nusantara dengan kapasitas 300 liter per detik. Proyek ini bekerja sama dengan Korea Selatan. Dia juga menyebutkan, terdapat kerja sama sistem pengelolaan sumber daya air pintar dengan Finlandia.

Secara umum, Forum Air Sedunia ke-10 diikuti oleh 108 negara dan 30 organisasi internasional. Jumlah pendaftar tercatat mencapai sekitar 20.000 peserta. Presiden Dewan Air Sedunia Loic Fauchon berharap forum dapat menghasilkan keputusan yang bijaksana serta aksi strategis yang efisien.

 

Sumber: https://www.kompas.id/baca/humaniora/2024/05/19/pencapaian-sdgs-air-bersih-dan-sanitasi-tersendat?open_from=Humaniora_Page