BEKERJA DAN BERBAKTI UNTUK KEMAJUAN KTI

Membuka Isolasi dan Dorong Pariwisata

12 Bandara Beroperasi
Membuka Isolasi dan Dorong Pariwisata

MAMASA, KOMPAS — Sebanyak 12 bandar udara baru akan dioperasikan selama tahun 2014 ini dalam upaya mendorong pemerataan pembangunan dan membuka isolasi daerah di seluruh Indonesia. Seiring dengan hal itu, subsidi pemerintah untuk penerbangan perintis pun meningkat.

Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengungkapkan hal itu di sela-sela peresmian pengoperasian Bandara Sumarorong, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, Selasa (11/3). Bandara yang dibangun dari tahun 2011-2013 tersebut menelan biaya Rp 107 miliar dengan panjang landasan 900 meter.

Tahun ini landasan bandara tersebut akan diperpanjang menjadi 1.200 meter sehingga kelak keseluruhan biayanya menjadi Rp 160 miliar. Penambahan panjang landasan memungkinkan Bandara Sumarorong didarati pesawat berkapasitas lebih dari 30 penumpang.

”Pembangunan bandara berdimensi ekonomi, termasuk distribusi logistik, dan pemerataan pembangunan yang mencakup aksesibilitas transportasi. Sebisa mungkin bandara baru ini mendorong kepariwisataan,” ujar Bambang.

Ke-12 bandara baru yang akan dioperasikan tersebut tersebar di Indonesia bagian timur dan barat, seperti Saumlaki Baru di Maluku, Waghete-Paniai (Papua), Waisai-Raja Ampat (Papua Barat), Bawean (Jawa Timur), Pekon Serai (Lampung), dan Pagar Alam (Sumatera Selatan). Sejumlah bandara tersebut merupakan bagian dari 299 bandara yang dinaungi Kementerian Perhubungan di seluruh Indonesia.

Didampingi Direktur Bandar Udara Kemenhub Bambang Tjahjono, Wamenhub mengungkapkan, total anggaran yang tersedot untuk ke-12 bandara tersebut mencapai Rp 2,3 triliun. Rata-rata tiap bandara menelan biaya Rp 250 miliar.
Subsidi tarif tiket

Wamenhub menambahkan, umumnya bandara-bandara baru tersebut menjadi lokasi layanan penerbangan perintis. Dalam hal ini, pemerintah merangsang tingkat keterisian pesawat dengan memberi subsidi kepada pengguna jasa. Anggaran subsidi juga ditingkatkan dari Rp 275 miliar tahun 2013 menjadi Rp 350 miliar tahun 2014 ini.

Polanya, dua pertiga dari harga tiket penerbangan ditanggung pemerintah. Itu berarti penumpang hanya membayar sepertiga harga tiket.

Sebagai contoh, untuk penerbangan dari Mamasa ke Makassar, penumpang hanya membayar ke maskapai Avia Star Rp 243.000, sepertiga dari harga tiket normal. Kelak, setelah tingkat keterisian sudah memadai, subsidi akan dicabut dengan mendorong sejumlah maskapai bersaing menerbangi bandara tersebut. Saat ini maskapai milik kelompok usaha Bosowa pun sudah menjajal Bandara Sumarorong.

Kepala Subdit Angkutan Udara, Niaga, dan Terjadwal Kemenhub Musdalifa menambahkan, tahun ini teranggarkan Rp 350 miliar untuk subsidi penerbangan perintis dengan 170 rute. Naik dibandingkan tahun 2013 sekitar Rp 275 miliar (138 rute).

Gubernur Sulawesi Barat Anwar Adnan Saleh menyambut baik pengoperasian bandara di Kabupaten Mamasa bertepatan dengan ulang tahun ke-12 kabupaten tersebut. Bagi Sulbar sendiri, Sumarorong merupakan bandara kedua yang dimiliki provinsi itu. Tiga bulan sebelumnya, Sulbar sudah mengoperasikan Bandara Tampa Padang di Mamuju.

Warga Mamasa, Alberth Karim (62), menyatakan senang dengan beroperasinya Bandara Sumarorong. Hal ini karena perjalanan dia dari Mamasa ke Makassar, ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, dengan jalan darat 340 kilometer selama ini ditempuh 8 jam. Biaya naik bus Rp 200.000.

”Sekarang naik pesawat ke Makassar cuma butuh sejam. Sudah hemat waktu, biayanya pun murah,” ujar Kepala SMA Katolik Mamasa itu. (NAR)

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000005390763