BEKERJA DAN BERBAKTI UNTUK KEMAJUAN KTI

Merauke, Calon Lumbung Beras

Pertanian
Merauke, Calon Lumbung Beras
Ikon konten premium Cetak | 14 Juni 2015

Merauke, kabupaten paling timur di wilayah selatan Indonesia, secara perlahan berubah menjadi lumbung padi. Tahun 2014 produksi padi daerah itu mencapai 204.687 ton gabah kering panen. Merauke bahkan telah diprediksi Pemerintah Hindia Belanda menjadi lumbung padi untuk Papua dan kawasan Pasifik.
Ismadi, transmigran asal Banyuwangi, Jawa Timur, menyiapkan traktor untuk menggarap lahan pertanian di Desa Semangga, Distrik Semangga, Merauke, Papua, akhir Mei. Buruknya infrastruktur irigasi menyebabkan sawah di wilayah itu hanya dapat ditanami sekali dalam setahun, yakni pada musim hujan.
Kompas/Danu KusworoIsmadi, transmigran asal Banyuwangi, Jawa Timur, menyiapkan traktor untuk menggarap lahan pertanian di Desa Semangga, Distrik Semangga, Merauke, Papua, akhir Mei. Buruknya infrastruktur irigasi menyebabkan sawah di wilayah itu hanya dapat ditanami sekali dalam setahun, yakni pada musim hujan.

Belanda yang masih menguasai Papua sampai dengan awal tahun 1960-an membuka persawahan dalam skala luas di Kampung Kumbe, Distrik Kurik, yang kala itu disebut Rijstproject Koembe atau proyek padi Kumbe. Proyek ini mulai dirintis sejak tahun 1951.

Ini adalah proyek besar Pemerintah Hindia Belanda untuk menjadikan Merauke sebagai lumbung beras. Luas sawah saat itu 700 hektar (ha). Rawa, hutan sagu, dan kelapa disulap menjadi areal persawahan. Belanda menerapkan sistem polder untuk mengatur pengairan.

"Pertanian padi di Kumbe saat itu telah dilakukan dengan cara mekanisasi penuh oleh Belanda. Mesin pertanian modern didatangkan. Beras Kumbe diproyeksikan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan di Papua, tetapi juga kawasan Pacifik, seperti Papua Niugini," ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Merauke Bambang Dwiatmoko.

Pengangkutan beras hasil panen dilakukan dengan menggunakan lori dari penggilingan beras ke pelabuhan Kumbe.

Jejak-jejak kejayaan pertanian padi pada era pemerintahan Hindia Belanda hingga kini masih dapat ditemukan. Tempat penggilingan padi, gudang beras, dan rumah karyawan masih berdiri kokoh. Rel-rel lori juga masih ada. Proyek itu berhenti ketika Papua lepas dari tangan Belanda ke pangkuan Indonesia.

Kini, 61 tahun kemudian terhitung sejak 1954, tanaman padi di Merauke terus berkembang. Sawah seluas 43.000 ha telah dibuka dan ditanami, baik oleh pengusaha, warga setempat, maupun transmigran. Petani asal Pulau Jawa dan Sulawesi ikut mengubah Merauke menjadi lumbung padi.

Namun, waktu yang begitu lama sejak Belanda membuka tanaman padi di Merauke, mekanisasi dan intensifikasi lahan masih berupa harapan. Sampai sekarang, para petani Merauke, baik yang menggarap lahan sendiri maupun milik orang lain, bertahan dan mengembangkan tanaman padi berkat keluletan para petani.

"Lihat sendiri Mas, irigasi saja belum ada. Lahan kami hanyalah sawah tadah hujan yang hanya dapat ditanami satu kali dalam setahun," kata Ismadi (30), transmigran asal Banyuwasi, Jawa Timur, yang menggarap lahan seluas 5 ha. "Itu lahan orang lain yang saya tanami secara gratis," katanya.

Mertuanya, Sawal (60), yang juga transmigran lebih beruntung karena menggarap sawah di dekat kubangan air sehingga pada musim kemarau masih dapat menanam padi. "Hanya sawah di dekat kubangan air yang dapat ditanami. Air dari kubangan itulah yang dipakai untuk mengairi sawah," katanya.

Dari sawah tadah hujan yang mereka tanami, dapat dihasilkan sekitar 5 ton gabak kering panen (GKP).

Namun, menurut Ismadi dan Sawal, ongkos bertanam padi di daerahnya itu butuh biaya besar. Selain bahan bakar untuk traktor, setiap kali panen, petani di Merauke harus menyerahkannya kepada pemilik peralatan panen sebesar Rp 2 juta untuk 1 ha sawah. Penggunaan mesin dilakukan karena kesulitan mendapatkan buruh panen di daerah transmigrasi itu.

Masyarakat asli Merauke sendiri sudah mengenal bercocok tanam padi dalam satu dekade terakhir. Misalnya Bernadetta Balagaise (47), petani di Desa Sirapi, Kampung Urum, di Distrik Semangga, Merauke, yang mengerjakan lahan sawah milik Texmaco.

Menurut Bernadetta, hasil bercocok tanam padinya sudah bisa dinikmati. "Satu hektar panennya bisa mencapai 70 sampai 110 karung gabah," katanya. Satu karung berisi 70 kilogram GKP atau 7,7 ton per ha.

Daerah agraris

Pemerintah pusat memang ingin menjadikan Kabupaten Merauke sebagai sentra pertanian padi di Indonesia. Untuk mewujudkan itu, Presiden Joko Widodo menugaskan badan usaha milik negara menggarapnya. Merauke memiliki potensi lahan seluas 4,6 juta ha. Selain menugaskan BUMN, pengembangan pertanian padi di Merauke juga akan diserahkan kepada swasta. Dengan asumsi, panen 8 ton per ha per musim, jika panen bisa dua kali per tahun, produksi padi bisa 73,6 juta ton.

"Saya berikan target tiga tahun. Merauke harus bisa menjadi lumbung beras bukan hanya nasional, melainkan juga internasional," kata Presiden Joko Widodo dalam pidato pembukaan acara Indonesia Investment Week yang digelar Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) di Jakarta, Mei lalu (Kompas, 15/5). Presiden Jokowi juga telah mengunjungi Merauke untuk panen raya.

Berdasarkan data dinas tanaman pangan dan hortikultura Merauke, produksi GKP di daerah itu terus meningkat. Pada tahun 2011 produksi padi tercatat 117.142 ton, tahun 2012 naik jadi 146.689 ton, 2013 meningkat lagi jadi 180.988 ton, dan 2014 bertambah menjadi 204.687 ton.

Luas areal panen padi juga meningkat. Tahun 2011 seluas 28.069 ha, tahun 2012 seluas 34.336 ha, 2013 seluas 36.673 ha, dan 2014 mencapai 39.182 ha. Adapun luas tanam padi tahun 2011 seluas 28.458 ha, tahun 2012 seluas 34.534 ha, tahun 2013 seluas 38.673 ha, dan 2014 seluas 39.566 ha.

Bambang mengemukakan, peningkatan produksi padi dari tahun ke tahun karena ditunjang sejumlah program, seperti penambahan areal melalui cetak sawah baru, optimalisasi lahan, penerapan teknologi, dan mekanisasi pertanian.

Merauke juga mengembangkan produksi kedelai. Peningkatan produksi kedelai dalam empat tahun terakhir melonjak tiga kali lipat. Pada tahun 2011, luas panen kedelai tercatat 178 ha dengan produksi 286 ton, tahun 2012 luas panen 442,75 ha dengan produksi 815,78 ton, tahun 2013 luas panen 473 ha dengan produksi 877,75 ton, dan tahun 2014 luas panen 491 ha dengan produksi mencapai 900,04 ton.

Pengembangan pertanian padi skala luas di Merauke ke depan dirancang menggunakan sistem kemitraan antara pemilik tanah ulayat dan perusahaan penggarap. Konsep ini telah diuji coba PT Parama Pangan Papua di lahan seluas 500 hektar, di atas tanah ulayat di Distrik Kurik. Dengan model kemitraan, pemilik tanah ulayat menerima bagi hasil panen sekaligus menjadi tenaga penggarap. Digarap dengan mekanisasi, panen yang dihasilkan mencapai 7,1 ton GKP per ha.

"Dengan kemitraan, tidak ada pengalihan kepemilikan tanah ulayat kepada investor, tetapi tanah ulayat itu dilindungi dan produktif. Ujungnya adalah peningkatan kesejahteraan pemilik tanah ulayat," kata Bambang.

Ia mengatakan, infrastruktur untuk menunjang pertanian padi di Merauke masih kurang, di antaranya irigasi. Karena itu, untuk menunjang pengembangan Merauke sebagai sentra produksi pertanian padi dan lumbung padi nasional, diusulkan pembangunan waduk Kumbe dan waduk Bian. Waduk itu diharapkan mampu mengairi kebutuhan pengairan sawah sehingga tanam padi bisa 2-3 kali setahun.

"Selama tiga tahun ke depan setiap tahun dibuat sawah baru 250.000 ha sehingga dalam tiga tahun seluas 750.000 hektar. Dibagi 70 persen akan digarap BUMN dan 30 persen swasta. Ini membutuhkan persiapan dan perencanaan yang bagus supaya tidak membabi buta," katanya. (RWN/IRE/NIC/MUL)

Sumber: http://print.kompas.com/baca/2015/06/14/Merauke%2c-Calon-Lumbung-Beras

Related-Area: