BEKERJA DAN BERBAKTI UNTUK KEMAJUAN KTI

Penjaga Tertinggi Budaya Kalumpang

Robert Eli Sipayo
Penjaga Tertinggi Budaya Kalumpang

Oleh: MOHAMAD FINAL DAENG

Di rumah kayu yang sederhana, Robert Eli Sipayo (71), menghabiskan hari-harinya. Usianya boleh terbilang tak muda lagi, tetapi semangatnya untuk merawat, melestarikan, dan menghidupkan kembali berbagai aspek kebudayaan masyarakat Kalumpang tak pernah goyah.

Eli adalah Ketua Adat (Tobara’) Masyarakat Tanalotong yang mendiami wilayah Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Tanalotong berarti ”tanah subur,” sebutan dulu kala untuk merujuk pada wilayah Kalumpang. Saat ini, masyarakat adat Kalumpang juga mencakup Kecamatan Bonehau dan sebagian wilayah kecamatan sekitarnya hingga Kabupaten Mamasa.

”Sekarang, populasi masyarakat adat Kalumpang berjumlah sekitar 20.000 jiwa,” kata Eli saat ditemui pada akhir Maret lalu di Desa Kalumpang, ibu kota Kecamatan Kalumpang. Desa Kalumpang terletak di lembah yang dikelilingi gunung-gunung yang berjarak 121 kilometer arah timur laut kota Mamuju.

Orang Kalumpang diyakini telah bermukim di wilayah itu sejak setidaknya 3.800 tahun lalu atau saat masa awal migrasi bangsa Austronesia ke Nusantara. Banyak arkeolog meyakini Kalumpang adalah salah satu titik mula persebaran orang Austronesia, leluhur langsung bangsa kita sekarang, ke seluruh Tanah Air.

Hal itu dibuktikan dengan banyaknya situs arkeologi yang ditemukan di Kalumpang. Dua situs yang terkenal, yakni Minanga Sipakko dan Kamasi, telah diteliti sejak awal abad ke-20 oleh orang Belanda. Sejak saat itu, Kalumpang menjadi obyek penelitian arkeologi yang penting bagi ahli-ahli dari dalam negeri dan luar negeri.

Temuan benda-benda prasejarah dari berbagai penggalian di daerah itu mencakup pecahan tembikar bermotif dan polos. Tembikar adalah penanda utama kebudayaan Austronesia. Selain itu, ada pula berbagai peralatan batu, seperti beliung persegi, pisau, mata panah, mata tombak, hingga pemukul kulit kayu dari zaman neolitikum.

”Kami sangat bangga dengan banyak ditemukannya benda purbakala di daerah ini. Temuan-temuan itu juga membuat kami banyak belajar soal sejarah dan identitas masyarakat kami sendiri,” kata Eli.
Lembaga adat

Hal itu pula yang memunculkan kesadaran masyarakat untuk melestarikan dan menghidupkan kembali berbagai aspek kebudayaan serta adat-istiadat Kalumpang yang telah banyak memudar, bahkan hilang seiring perkembangan zaman. Awalnya adalah dengan dibentuknya lembaga Tobara’ Masyarakat Tanalotong yang menaungi seluruh masyarakat adat Kalumpang pada 2008.

”Sebelum terbentuk lembaga itu, setiap kampung di Kalumpang memiliki perangkat Tobara’ masing-masing. Mereka bersifat independen satu sama lain dan kerap memiliki tata cara adat yang berbeda-beda,” kata Eli.

Keberadaan Tobara’ Tanalotong itu dimaksudkan untuk menjadi rujukan soal adat sekaligus benteng penjaga tertinggi kebudayaan masyarakat Kalumpang. Meski begitu, perangkat Tobara’ memiliki sistem kolektif kolegial dengan tobara’ di tingkat kampung.

Sejak memangku jabatan Tobara’ Tanalotong itu, Eli semakin giat mendata seluruh kekayaan adat-istiadat Kalumpang. Salah satunya, ia kini tengah berupaya membukukan hukum adat Kalumpang. Dari pengalamannya, di setiap kampung di Kalumpang kerap ditemui hukum adat yang berbeda-beda, bercampur aduk dengan hukum lain, bahkan ada hukum adat yang telah hilang.

Untuk itu, ia gencar berkeliling setiap kampung di Kalumpang guna mengumpulkan hukum-hukum adat yang masih terjaga. Ia menuliskannya dari ingatan tetua-tetua kampung ataupun ingatannya sendiri tentang hukum-hukum yang pada masa lampau hidup di masyarakat Kalumpang.
Terancam punah

Eli juga berupaya menyelamatkan berbagai aspek lain dari budaya Kalumpang yang terancam punah. Salah satunya tradisi ”Ole” atau pantun yang dilagukan. ”Dulu Ole dipakai dalam setiap transaksi jual-beli, perdamaian, ataupun pertunangan. ”Sekarang tinggal 1-2 orang yang masih menguasai keterampilan itu,” katanya.

Ia berniat mengumpulkan pelantun Ole yang tersisa itu untuk mengajarkannya kepada generasi muda Kalumpang. Dari situ, diharapkan tradisi luhur tersebut bisa terus hidup.

Eli juga tengah menyusun sebuah buku tentang kebudayaan Kalumpang yang menurut rencana diberi judul Melacak Budaya Kalumpang sejak Zaman Neolitikum. Data-datanya dikumpulkan sejak tahun 1980-an dengan mendatangi satu per satu wilayah adat masyarakat Kalumpang.

Ia mengumpulkan cerita tetua-tetua Kalumpang ataupun dari pengetahuan dan pengalaman pribadinya sendiri. ”Sekarang, buku itu sudah tersusun sekitar 40 persen. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa rampung,” kata dia.

Eli banyak pula memiliki referensi berupa buku dan tulisan ilmiah dari arkeolog-arkeolog yang pernah meneliti di Kalumpang. Seluruh bahan itu terkumpul rapi dalam satu rak penuh di salah satu sudut rumahnya. Hasil interaksi lisan dengan para arkeolog juga terekam kuat dalam memorinya.

Penulisan buku itu dilatarbelakangi kekhawatirannya terhadap serbuan modernisasi terhadap budaya Kalumpang ditambah lagi sikap generasi muda yang abai terhadap adat-istiadat. ”Semoga buku ini nanti bisa dipakai generasi mendatang untuk belajar soal budaya Kalumpang,” kata dia.

Satu hal lain yang menjadi mimpi besarnya adalah membangun kembali rumah tradisional Kalumpang yang disebut ”Banoa Batang”. Dulu, rumah model panggung itu menjadi ciri khas masyarakat Kalumpang dan dari bentuknya diyakini memiliki keterkaitan langsung dengan nenek moyang Austronesia.

Banoa Batang, tak seperti kebanyakan rumah tradisional lain yang memiliki ciri khas dari bentuk atapnya, memiliki keunikan pada bagian bawahnya. Tiang rumah panggung yang disambungkan dengan lantai rumah memiliki pola berbentuk rakit. Hal itu diyakini sebagai jejak warisan bangsa Austronesia yang dulu bermigrasi dari Pulau Taiwan ke selatan dengan menggunakan rakit.

”Bukan hanya rumah, dulu konstruksi jembatan di Kalumpang juga menyerupai rakit, tetapi sekarang sudah tidak ditemukan lagi. Seluruh rumah tradisional di Kalumpang habis dibakar saat pergolakan DI/TII tahun 1950-an,” kata Eli.

Karena itu, dalam setiap kesempatan Eli selalu memperjuangkan pembangunan rumah tersebut ke pemerintah daerah. Menurut rencana, rumah itu akan difungsikan sebagai museum untuk menyimpan berbagai benda purbakala yang selama ini ditemukan di Kalumpang.

Benda-benda itu selama ini disimpan tersebar di sejumlah tempat, seperti Jakarta, Yogyakarta, Makassar, hingga Belanda. ”Semua benda itu telah didata dan siap dikembalikan ke Kalumpang jika telah ada museum atau tempat penyimpanan yang memadai,” kata Eli.

Robert Eli Sipayo
♦ Lahir: Kalumpang, 30 Juli 1942
♦ Jabatan: Tobara’ (Ketua Adat) Masyarakat Tanalotong
♦ Pendidikan: SLTA (1962)
♦ Keluarga:
   - Istri: Tambona Barangan(meninggal 2010)
   - Anak: Taufik Sipayo (33)

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000006319147