BEKERJA DAN BERBAKTI UNTUK KEMAJUAN KTI

Pengurangan Tengkes Mesti Berkelanjutan

Penurunan jumlah tengkes tak mudah. Meski demikian, pada tahun 2024 target 14 persen diupayakan tercapai.

Oleh ESTER LINCE NAPITUPULU


JAKARTA, KOMPAS — Pengurangan jumlah anak-anak dengan masalah stunting atau tengkes jangan hanya terfokus pada penurunan persentase. Sebab, anak-anak yang mengalami stunting bisa terjadi dan bisa hilang.

Komitmen yang perlu diperkuat justru untuk memastikan tidak ada satu pun anak bangsa yang stunting, agar tumbuh sehat dan menjadi generasi penerus bangsa yang bermutu. Karena itu, penanganan tengkes harus dilakukan secara berkelanjutan sampai tingkat keluarga.

Pada tahun 2024, penurunan angka stunting di Indonesia dikejar sesuai target turun menjadi 14 persen. Tahun 2022, angka tengkes 21,6 persen dan tahun 2021 angkanya mencapai 24,4 persen. Percepatan penurunan dilakukan dan tahun ini melibatkan 17 kementerian/lembaga, termasuk melibatkan pihak swasta.

”Kata kunci percepatan, yakni menekankan konvergensi hingga ke keluarga,” kata Penyuluh Ahli Utama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Siti Fathonah, dalam bincang edukasi bertajuk ”Tangani Stunting, Selamatkan Anak Bangsa”, di Jakarta, Rabu (17/1/2024).

”Tentu sasarannya adalah keluarga yang mempunyai risiko stunting atau keluarga yang memiliki anak stunting karena data dengan nama dan alamat sudah ada. Ada pendataan keluarga dari BKKBN dan juga Kementerian Kesehatan,” ujarnya.

Sayangnya, menurut Siti Fathonah, data yang ada masih terserak sehingga kesulitan saat ada di lapangan. ”Di tahun ini, bergerak di lapangan harus dilakukan dengan cepat dan tepat,” tuturnya.

Menurut Fathonah, penurunan stunting dipercepat dengan memperkuat koordinasi lintas sektor di lapangan dan konvergensi sampai pada keluarga. Data sasaran harus tersedia agar penanganan untuk anak stunting maupun keluarga rawan stunting (KRS) dapat dilakukan dengan cepat dan tepat sasaran.

Risiko anak menderita stunting dapat terjadi sebelum maupun setelah lahir. Ketika lahir faktor risiko 18,5 dan di usia 0-5 bulan 11,7. Lalu di usia 6-11 bulan 13,7 dan di usia 12-23 bulan bisa mencapai 22,4. Stunting atau tengkes adalah gagal tumbuh kembang akibat kurang gizi kronis.

Pengurangan stunting dapat diraih jika tidak ada stunting baru dari bayi lahir hingga umur dua tahun. Hal ini sesuai Amanah Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 dengan menggarap secara benar keluarga berisiko stunting.

Tantangan pendataan
Fathonah menuturkan, dalam pendataan ada tantangan di tingkat desa atau kelurahan. Kondisinya bervariasi, tapi tetap ada daerah yang berhasil dengan kader posyandu dan gizi yang baik.

Pendampingan dilakukan dengan tim pendamping keluarga (TPK) berjumlah 600.000 orang dan insentif dengan besaran Rp 100.000 per bulan selama 10 bulan. Dengan kondisi ini, pergantian TPK tinggi karena butuh orang dengan semangat kesukarelawanan.

”Yang harus terus kita pikirkan jangan ada satu pun anak Indonesia terlabel stunting. Untuk itu, strategi konvergensi di tingkat keluarga dilakukan dengan Langkah 5 Pasti, yakni pastikan teridentifikasi, pastikan terdaftar, pastikan menerima, pastikan patuh, serta pastikan tercatat dan terlapor,” papar Fathonah.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Endang L Achadi memaparkan pencegahan stunting dilakukan dalam periode kehamilan sampai dua tahun pertama kehidupan.

Pada masa delapan minggu pertama kehamilan, kebutuhan gizi janin harus terjamin. Sebab pada masa ini terjadi pembentukan cikal bakal organ normal, seperti jantung, ginjal, tulang, otak, otot, dan organ lainnya.

Endang menjelaskan, stunting bukan penyebab turunnya kecerdasan dan risiko penyakit tidak menular, tapi prosesnya terjadi bersama-sama. Stunting dijadikan fokus karena pendek merupakan penanda yang bisa dideteksi paling dini. Saat lahir, panjang badan lahir rendah, berat badan lahir rendah, bayi berukuran kecil umur gestasinya.

Penanda lainnya adalah kemampuan kognitif, biasanya terlihat setelah anak masuk prasekolah. Adapun penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, atau stroke baru muncul atau terlihat pada usia dewasa.

”Kita harus mencegah stunting pada siapa pun. Sebagian besar kasus stunting dimulai saat janin atau bayi berada di periode 1.000 hari pertama kehidupan atau HPK dan 50 persennya terjadi dalam kandungan. Karena itu, periode 1.000 HPK (hari pertama kehidupan) ini penting,” kata Endang.

Terkait target penurunan stunting 14 persen yang diragukan tercapai tahun ini, Endang mengatakan menurunkan stunting tidak mudah. Hal ini dimulai dengan tersedianya data yang benar dan bermutu sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program. Penurunan per tahun di dunia rata-rata 1 persen.

Sebagian besar kasus stunting dimulai saat janin atau bayi berada di periode 1.000 hari pertama kehidupan atau HPK dan 50 persennya terjadi dalam kandungan.

”Penurunan tidak mudah karena intervensinya bukan hanya spesifik terkait gizi dan kesehatan, tapi juga intervensi sensitif seperti air bersih, hingga sanitasi atau punya jamban. Penurunan 1 persen kasus, berarti 0,3 persen dari intervensi spesifik dan 0,7 dari intervensi sensitif,” kata Endang.

Rektor Universitas Yarsi Fasli Jalal mengatakan, jendela kesempatan untuk mengatasi stunting dengan adanya satu data sebagai dasar perencanaan program yang baik harus jadi fokus.

Dengan demikian, prioritas dapat dilakukan sehingga tidak ragu-ragu dan menunggu karena ada target waktu yang harus dikejar agar penanganan dan pencegahan stunting tidak terlambat.

Gotong royong
Penanganan tengkes di Indonesia tidak bisa dilakukan sendirian, tapi harus bergotong royong agar hasilnya maksimal. Selain pemerintah, sektor swasta juga ikut terlibat dalam menekan kasus tengkes.

Kepala Divisi Komunikasi Korporat PT Indofood Sukses Makmur Tbk Stefanus Indrayana menjelaskan, Indonesia merupakan salah satu negara yang ikut serta mengatasi malanutrisi di dunia. Keterlibatan Indonesia di kancah internasional bersama negara lain mengatasi malanutrisi sejak tahun 2012.

Sektor swasta, seperti Indofood, juga berupaya mengatasi malanutrisi, baik kelebihan nutrisi, kekurangan nutrisi, dan kekurangan nutrisi mikro. ”Upaya mengatasinya dengan meningkatkan konsumsi makanan bergizi agar kebutuhan nutrisi terpenuhi,” kata Indrayana.

Sebagai contoh, produk-produk pangan seperti terigu, minyak goreng, dan mi telah dilakukan fortifikasi nutrien agar masyarakat mengonsumsi terpenuhi kebutuhan nutrisi.

Fortifikasi tepung terigu dengan penambahan berbagai mineral dan vitamin yang dibutuhkan bagi kesehatan manusia, antara lain penambahan zat besi pada terigu, serta penambahan vitamin A pada minyak goreng. ”Tak hanya pangan, tapi juga pengadaan sanitasi jadi bagian upaya penurunan stunting,” tuturnya.

Hal lain yang dilakukan adalah melatih masyarakat mengolah makanan sehat dan memiliki kandungan gizi seimbang dan nantinya mereka akan mempraktikkan ke keluarga masing-masing.

Selain itu, layanan gizi masyarakat disediakan melalui posyandu. Saat ini, ada 228 posyandu binaan dan lima klinik kesehatan bersifat mobile atau keliling di lima area di wilayah pabrik Indofood.

Dan sesuai arahan pemerintah, kami juga fokus pada intervensi gizi pada ibu hamil, remaja putri, dan 1.000 hari pertama kehidupan anak.

Editor:
EVY RACHMAWATI


Sumber: https://www.kompas.id/baca/humaniora/2024/01/17/pengurangan-stunting-tidak-tehenti-di-pencapaian-persentase?open_from=Section_Humaniora